Text
Citizen Journalism : pandangan, pemahaman, dan pengalaman
Di Indonesia, istilah jurnalis warga atau pewarta warga, baru dikenal pada akhir tahun 2004. Adalah peristiwa Tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menjadi latar belakang berkat laporan langsung seorang warga melalui rekaman handycam. Saat itu, hasil rekaman mengenai dahsyatnya tsunami ditayangkan secara berulang-ulang oleh beberapa stasiun televisi nasional.
Beberapa tahun kemudian, istilah jurnalis warga bukan lagi sekadar laporan alternatif dari media mainstream. Melainkan menjadi tren, seiring munculnya beberapa situs atau blog keroyokan yang banyak menampung laporan, aspirasi, atau uneg-uneg warga itu sendiri.
Hingga menjelang akhir 2012 ini, terdapat berbagai macam pemberitaan yang berasal dari warga biasa menjadi heboh dan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, bahkan sampai ditayangkan di televisi. Beberapa diantaranya, pemberitaan negatif mie instan di Hong Kong, email palsu anggota DPR di Australia, serta fenomena mengenai gaya bicara “sesuatu” dari seorang artis perempuan, Syahrini.
Dalam buku Citizen Journalism: Pandangan Pemahaman, dan Pengalaman, yang ditulis oleh Pepih Nugraha, terdapat beberapa pengertian mengenai istilah tersebut. Wartawan Kompas sekaligus pendiri Kompasiana itu, sedikitnya memaparkan berbagai macam persoalan tentang jurnalis warga berdasarkan pengalamannya di media sosial sejak tahun 2005.
Tidak tersedia versi lain