Text
Medan: pasang surut kota perkebunan
Sejarah Medan tak bisa dilepaskan dari sejarah perkebunan. Istilah kuli atau koeli kontrak lahir dari rahim perkebunan di Kota Medan. Perkebunan pula yang mengembangkan dan membentuk peradaban Kota Medan. Dari sebuah kampung kecil, Medan berkembang menjadi kota praja, kota madya hingga menjadi kota seperti sekarang ini.
Perkebunan menghadirkan berbagai fasilitas publik dan fasilitas modern di Kota Medan. Medan merupakan kota paling modern di Indonesia pada zamannya. Medan menyandang reputasi sebagai kota internasional. Ia bisa disetarakan dengan Singapura. Ia bahkan bisa disetarakan dengan Kota Paris di Eropa. Mendan mendapat julukan "Parisj van Sumatra" alias Paris-nya Sumatra, Paris dari Sumatra.
Medan dalam hal keberagaman primordialnya sering disebut sebagai bentuk mini Indonesia. Etnik, agama, ras kebudayaan, yang ada di seluruh Indonesia, juga ada di Kota Medan. Medan disebut kota berbilang kaum. Bahkan etnik terntentu, seperti Tionghoa dan India, Tamil, atau Keling, punya kekhasan sendiri. Kelompok masyarakat yang disebut "preman" pun ternyata terlhir di kota ini.
Pers, roman, serta percapakan khas Medan menajdi fenomena unik dan menarik Kota Medan. Pers, roman Medan, maupun percakapan khas Kota Medan memiliki nilai historis yang ternyata sedikit banyak terkait dengan perkebunan. Sebagai fenomena yang memiliki nilai historis, pers, roman, maupun percakapan khas Medan semestinya berkontribusi bagi pembentukan peradaban Kota Medan, Sumatra Utara, bahkan Indonesia.
Tidak tersedia versi lain