Text
Progresnya Berapa Persen?
Aku mengetikkan angka yang kini tertera di layar PC, lalu menekan tombol kirim. Kantor konsultan tempatku bekerja memegang syukurnya cukup banyak proyek. Kami dipekerjakan sebagai konsultan perencana dan konsultan pengawas di bidang konstruksi. Didirikan empat tahun lalu oleh si bobos, Pak Tio, dan manajer teknik kebanggaannya, Dewangga Bayuzena. Singkatnya, Pak Tio menggaet klien sementara Dewangga mengurus kepentingan teknis. Pakde yang sejak tadi kami sebut namanya adalah Pak Dewangga.
Berhubung namanya terdiri lebih dari dua suku kata, kami memilih menyingkatnya. Pencetusnya adalah tidak lain tidak bukan adalah Clinton. Sampai sekarang, kurasa Dewangga tidak tahu kami memanggilnya Pakde. Di hari Senin, Dewangga akan memakai kemeja putih, di hari Selasa memakai kemeja hitam, dan di hari Rabu memakai kemeja abu-abu. Setiap Rabu sebelum pulang kantor kami akan melakukan taruhan dengan menebak kemeja warna apa yang akan dipakai pada hari Kamis.
Sudah setahun April mengabdi di sebuah kantor konsultan yang bergerak di bidang konstruksi. Nyaman, minim persaingan, dan fleksibel. Suasana yang sulit dijumpai di lingkungan kerja kebanyakan. Namun, selalu ada harga yang harus dibayar. Seperti bobot pekerjaan yang bikin puyeng, deadline yang suka tiba-tiba, delegasi tugas tanpa instruksi detail, dan puluhan tender yang diikuti dalam waktu berdekatan.
Seakan semuanya belum cukup, rasanya kepalanya mau pecah saat sebuah pertanyaan muncul ketika dia sedang mengerjakan tugas lain yang juga mendesak. Seringnya, pertanyaan itu meluncur dari seorang manajer teknik bernama Dewangga Bayuzena, laki-laki yang entah kenapa selalu bikin jantung para staf ketar-ketir dengan satu pertanyaan kebanggaannya ini; "Progresnya berapa persen?”
Tidak tersedia versi lain